Senin, 04 Oktober 2010

DIMANAKAH ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA……….?

Pertanyaan yang terabaikan, padahal inilah pertanyaan yang penting. Pertanyaan ini pernah ditanyakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam kepada seorang budak, maka budak itu menjawab “Dilangit” dan seterusnya. (lihat didalam tulisan ini).



Jika engkau tanyakan kepada manusia pada hari ini, “Dimana Allah....?” Mereka menjawab :

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berada dimana – mana.
2. Allah Subhanahu wa Ta’ala berada didalam diri kita.
3. Allah Subhanahu wa Ta’ala berada tidak punya tempat dan tidak punya arah.

Lihatlah, betapa bodoh nya mereka terhadap al-Quran. Betapa sesatnya ucapan mereka. Saya tanyakan kepada mereka “Apakah anda lebih mengetahui Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada Allah Subhanahu wa ta’ala sendiri...?” Apakah anda lebih mengetahui, atau Allah yang lebih mengetahui tentang diri-Nya. Jawab......! Wahai orang yg berada didalam kebimbangan. Jawab...!



Dzat Allah Subhanahu wa ta’ala berada dilangit, ada 1.000 dalil baik itu dari al-Quran, as-Sunnah, ijma’ (kesepakatan ulama), atau perkataan sahabat, tabi’in dan ulama lain nya. Yang semua nya menetapkan



“Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam diatas Arsy-Nya. Ilmu, Penglihatan, Pendengaran Allah Subhanahu wa ta’ala bersama kita”



Inilah aqidah yang besar, maka perhatikan. Perhatikanlah, wahai saudara ku.



Berikut dalilnya.



DALIL DARI AL-QURAN

Adapun dari al-Quran sangat banyak sekali ayat yang menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu diatas langit, diatas Arsy-Nya bersemayam.



Ø Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menyebutkan bersemayam-Nya didalam 7 tempat didalam al-Quran :

1. Al-A’raaf ayat 54
2. Yunus ayat 3
3. Ar-Ra’d ayat 2
4. Thaahaa ayat 5
5. al-Furqaan ayat 59
6. as-Sajdah ayat 4
7. dan al-Hadiid ayat 4



Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Lalu Dia bersemayam diatas Arsy” [Q.S Al-A’raaf yata 54]



Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Pendapat yang kami ikuti berkenaan dengan masalah ini adalah pendapat Salafus Shalih seperti Imam Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan Imam – imam lain sejak dahulu hingga sekarang, yaitu membiarkan nya seperti apa adanya, tanpa mempersoalkan hakekatnya, tanpa menyerupai dan tanpa menolaknya.” [Lihat, Tafsir Al-Quran al-Adzhim, Imam Ibnu Katsir]



Ø Ayat yang lain yang sangat jelas sekali, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang berada di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” [Q.S Al-Mulk ayat 16]



Juga firman-Nya :

“Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa, orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun” [Q.S 70 Al-Ma’aarij ayat 1-4]



Dan banyak lagi ayat yang semakna seperti ini, silahkan baca al-Quran dan terjemahan nya. Maka engkau akan menemukan ayat yang sangat banyak lagi. Yang semua nya menetapkan Allah Subhanahu wa ta’ala itu dilangit, bersemayam diatas Arsy-Nya.



Dan terakhir, ayat yang sama-sama kita sudah hafal –saya kira- yakni ayat Kursi. Firman-Nya :

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” [Q.S Al-Baqarah ayat 255]



---ooo---



DALIL DARI AS-SUNNAH

Adapun dalil dari as-Sunnah sebagai berikut –cukup satu hadits saja-

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada budak perempuan milik Mu’awiyah bin Hakam as-Sulamy, sebagai ujian keimanan sebelum budak tersebut dimerdekakan.



Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada budak perempuan itu, “Dimanakah Allah?” Jawab budak perempuan, “Di atas langit?” Beliau bertanya lagi, “Siapakah aku?” Jawab budak perempuan “Engkau adalah Rasulullah” Beliau Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Merdekakanlah dia! Karena sesungguhnya di seorang perempuan yang beriman (mukminah).”



Hadits ini Shahih, Dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantara nya :

1. Imam Malik didalam al-Muwaththa
2. Imam Muslim, juz 2 hal 70-71
3. Imam Abu Dawud, no 930 – 931
4. Imam An-Nasai, juz 3 hal 13 -14
5. Imam Ahmad, juz 5 hal 447, 448 dan 449
6. Imam Darimi, juz 1 hal 353 – 354
7. Imam Abu Dawud ath-Thayaalisiy di Musnad nya, no 1105
8. Imam Ibnul Jaarud dikitabnya al-Muntaqa, no 212
9. Imam Baihaqi, didalam Sunanul Kubra juz 2, hal 249-250
10. Imam Ibnu Khuzaimah didalam kitab nya at-Tauhid, hal 121-122
11. Imam Ibnu Abi ‘Ashim didalam kitabnya as-Sunnah, no 489, ditakhrij oleh Al-Allamah Al-Albani
12. Imam Utsman bin Sa’id ad-Darimi di kitabnya ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah, no 60, 61 dan 62 hal 38-39
13. Imam al-Laalika di kitab nya as-Sunnah no 652 dan lain – lain nya. [Lihat, takhrij hadits ini didalam Al-Masaa’il, jil-1 masalah ke-8, Ustadz Abdul Hakim]

Dari kita mengetahui betapa bodohnya Prof. DR. Quraisy Shihab didalam ilmu hadits –bahkan tafsir dan. –ketika dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah bersabda seperti diatas!? Demikian dia memuntahkan didalam kitabnya ”Membumikan al-Quran” Semoga Allah memberikan hidayah kepada Prof. DR. Quraisy Shihab dan wajib bagi dirinya untuk mendatang dalil, Kenapa dia menolak hadits yang SHAHIH diatas.



---ooo---



DALIL KESEPAKATAN ULAMA (IJMA’ ULAMA)

Adapun dalil dari ijma’ (kesepakatan) ulama sebagai berikut :



Ø Perkataan Imam Abu Hanifah (semoga Allah merahmatinya) Lahir 80 H – Wafat 150 H

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata : “Siapa yang berkata : “Saya tidak tahu Tuhan ku itu dimana, di langit atau di bumi” maka orang tersebut telah menjadi KAFIR. Demikian pula orang yang berkata : “Tuhan ku diatas Arsy. Tetapi saya tidak tahu Arsy itu di langit atau di bumi.” [Lihat, al-Fiqh al-Absath hal 46 dan kitab lain – lain nya]



Ø Perkataan Imam Malik (semoga Allah merahmatinya) Lahir 93 – Wafat 179 H

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata : “Cara Allah bersemayam (istiwa) tidaklah dapat dicerna dengan akal, sedangkan bersemayam (istiwa’) itu sendiri sudah dimaklumi makna nya (artinya sebagaimana adanya-pnls). Sedangkan kita wajib mengimaninya (yakni Allah bersemayam-pnls). Dan bertanya (bagaimana) adalah Bid’ah (perkara yang baru didalam agama). Dan saya kita kamulah PELAKU BID’AH itu.” Kemudian Imam Malik menyuruh orang itu agar dikeluarkan dari rumah beliau.” [Lihat, al-Hilyah, VI/325 – 326 dan kitab ulama lain nya]



Ø Perkataan Imam Syafi’i (semoga Allah merahmatinya) wafat 204 H.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata : ”Berbicara tentang Sunnah yang menjadi pegangan saya, murid – murid saya, begitu pula para ahli hadits yang saya lihat dan saya ambil ilmu mereka, seperti Sufyan, Malik dan lain-lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa ALLAH DI ATAS ARSY di LANGIT, dan dekat dengan makhluk-Nya, terserah kehendak Allah dan Allah itu turun ke langit terdekat (dunia) kapan saja Allah berkehendak.” [Lihat, I’tiqad al-A’immah al-Arba’ah, hal 58 – 59]



Ø Perkataan Imam Ahmad bin Hanbal (semoga Allah merahmatinya) wafat 241H.

Imam Ahmad rahimahullah berkata : ”Kami mengimani bahwa Allah ada diatas Arsy, bagaimana Dia berkehendak dan seperti apa yang Allah kehendaki.” [lihat, Dar’u Ta’arudh al-’Aql wa an-Naql (II/30)]



Ø Perkataan Al-Hafizh Abu Bakar al-Humaidi (guru Imam Bukhari) semoga Allah merahmatinya. Wafat 219 H

Beliau berkata :As-Sunnah menurut kami adalah : ”Dan kami menegaskan : ”Yang Maha Pemurah, Bersemayam di atas Arsy.” [Q.S Thaahaa ayat 5] Barangsiapa yang berpendapat selain itu, berarti dia seorang Mu’aththil dan Jahmi.” [Lihat, Ushuulus Sunnah, point 8 karya Imam al-Humaidi]



Orang Mu’aththil adalah orang yang mengingkari sifat Allah baik setengah atau seluruhnya.



Orang Jahmi adalah orang yang mengikuti pemikiran Jahm bin Shafwan pendiri aliran sesat Jahmiyah.



Ø Perkataan Imam Ibnu Abi Hatim ar-Razi (semoga Allah merahmatinya) lahir 240 H.

Beliau berkata : ”Aku bertanya kepada ayahku Imam Abu Hatim dan Imam Abu Zur’ah -semoga Allah meridhai mereka- tentang pendapat Ahlus Sunnah dalam masalah aqidah, juga pemahaman para ulama diberbagai kota yang mereka berdua ketahui, serta apa saja yang mereka berdua yakini. Maka, kedua nya berkata : ”Kami telah berjumpa dengan para ulama di seluruh kota baik itu Hijaz, Irak, Mesir, Syam ataupun Yaman, maka diantara madzhab mereka anut adalah :



”Bahwa Allah Azza wa Jalla berada diatas Arsy-Nya, terpisah dari seluruh makhluk-Nya, sebagaimana yang ditetapkan-Nya didalam kitan-Nya (al-Quran) melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wa sallam, tanpa diketahui bagaimana nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Lihat, Ashlus Sunnah wa I’tiqaduddien, Point ke 7. Imam Ibnu Abi Hatim]



Ø Perkataan Imam Abul Hasan al-Asy’ari (semoga Allah merahmatinya) wafat 324 H.

Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah berkata didalam ”Maqalat al-Islamiyin” : Beberapa pokok yang dipegang teguh oleh Ahli Hadits dan Ahlus Sunnah : Dan Bahwasanya Allah Subhanahu wa ta’ala bersemayam diatas Arsy-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. ”Allah Yang Maha Pengasih bersemayam diatas Arsy” [Q.S Thaahaa ayat 5]”



Didalam risalah yang beliau tulis untuk penduduk negeri Tsaghar, beliau berkata : ”Dan mereka sepakat bahwasanya Allah berada diatas langit-langit-Nya, diatas Arsy-Nya bukan di bumi-Nya.” [Lihat, Maqalat al-Islamiyin dan Risalah Ila Ahli ats-Tsaghar, karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan syarah nya I’tiqad Ahlissunnah Ashhab al-Hadits, karya Syaikh DR.Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais]



Ø Perkataan Syaikhul Islam Abu Ismail ash-Shabuni (semoga Allah merahmatinya) Lahir 372 Hijriah.

Syaikhul Islam Abu Ismail as-Shabuni rahimahullah berkata : ”Ahlus Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas tujuh lapis langit, diatas Arsy-Nya. Sebagaimana yang diungkapkan dalam kitab-Nya, yakni firman Allah” (beliau menyebutkan ayat al-Quran diatas).



Kemudian beliau berkata : ”Para Ulama dan Tokoh – Tokoh Imam dari kalangan Sahabat, Tabi’in dan Tabi’Tabi’in (as-Salaf ash-Shaleh) tidak pernah berselisih pendapat bahwa Allah Azza wa Jalla di atas ”Arsy-Nya” dan sesungguhnya Arsy-Nya itu diatas tujuh lapis langit.” [Lihat, Aqidah Salaf Ashhabul Hadits, point 19 – 37]



Ø Perkataann Syaikhul Islam Abdul Qadir Jailani (semoga Allah merahmatinya)

Syaikh Abdul Qadir Jailani rahimahullah berkata didalam ”Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq fi al-Akhlaq” beliau berkata : ”Mengenal Allah, secara ringkas, mengenal Allah melalui tanda-tanda dan beragam adalah Dia berada ditempat yang tinggi, bersemayam di Arsy. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.” Lalu beliau menyebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala [Q.S 35 Faathir ayat 10 dan Q.S As-Sajdah ayat 5]



---ooo---



DALIL FITRAH MANUSIA

Ø Pertama : Kita lihat orang yang berdoa, kemanakah dia mengangkat tangan nya. Keatas atau kebawa.....?

Jawab : Pasti ke atas. Ini dalil bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas.



Ø Kedua : Dari mana Air Hujan itu Turun. Dari langit atau dari bawah bumi....?

Jawab : Pasti dari atas. Ini dalil bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada diatas.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

”Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang.” [Q.S 13 : Ar-Ra’d ayat 17]



Dan ayat yang berbunyi seperti ini banyak sekali didalam al-Quran. Silahkan lihat didalam al-Quran.



Ø Ketiga : Dari mana Al-Quran itu. Dari langit atau dari bawah bumi....?

Jawab : Pasti dari langit. Ini dalil bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada dilangit.

“Dan Al Quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?” [Q.S 21 : Al-Anbiyaa’ ayat 50]



Dan ayat yang berbunyi seperti ini sangat banyak sekali.



Ø Keempat : Darimana Nabi Adam Alaihissalam, dan Siti Hawa diturunkan dari surga....?

Jawab : Pasti dari Surga yang ada dilangit.



Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan." [Q.S 7 Al-A’raaf ayat 24]



Dari ayat ini, sangat jelas sekali bahwa surga itu ada dilangit dan Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas langit.



Ø Kelima : Darimana Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam itu isra’ mi’raj,...?

Jawab : Pasti dari Baitullah Mekkah ke Masjidil Aqsha, setelah itu naik kelangit.



Terakhir, sebenarnya banyak sekali dalil – dalil tentang masalah ini. Akan tetapi saya cukupkan hanya 6 dalil saja, untuk lebih lanjutnya –insya’Allah saya jelaskan didalam kitab Al-Istiwa’. Semoga Allah memudahkan kami menulisnya.



Yang keenam adalah : Bacaan kita ketika sujud didalam shalat yakni doa “Mahasuci Rabb, yang Maha Tinggi.”



Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dimana-mana sebagaimana yang dikatakan orang yang bodoh itu, kenapa mereka sendiri mengatakan Allah yang Maha Tinggi. Tidakkah mereka menyadari diri mereka berada diatas kesesatan yang nyata.



---ooo---



1. Hukuman Bagi yang Orang Mengingkari Sifat Istiwa (Bersemayam Allah diatas Arsy-Nya)



Imam Abu Ja’far Muhammad bin Shalih bin Hani’ mengatakan : ”Aku pernah mendengar al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata : ”Barangsiapa yang tidak menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada diatas Arsy-Nya (sifat bersemayam), diatas tujuh lapis langit. Maka dia KUFUR kepada Rabb-Nya, halal Darahnya. Dan (dia) harus dipaksa bertaubat, kalau tidak mau, maka dipenggal kepalanya. Lalu dicampakkan ke dalam TONG SAMPAH agar kaum muslimin maupun orang – orang kafir dzimmi yang bersama mereka tidak terganggu oleh bau bangkainya yang busuk. Harta nya dianggap rampasan perang / fai, tidak hala diwariskan kepada kaum Muslimin. Karena orang muslim tidak mewarisi harta orang kafir. sebagaimana orang yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam ”Orang kafir tidak mewariskan orang muslim, demikian juga sebaliknya.” [Diriwayatkan oleh Bukhari]. [Lihat, Aqidah Salaf Ashhabul Hadits, point ke 29]



Subhanallah, Allahu Akbar, begitulah ketegasan para Ulama terdahulu memegang aqidah mereka, sangat kuat sekali. Lalu bagaimana jika al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah hidup pada zaman kita sekarang, pasti banyak orang – orang Islam akan dipenggal kepala mereka. Karena mereka mengingkari sifat bersemayam-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas Arsy-Nya. Mengingkari sifata istiwa berarti mengingkari al-Quran, as-Sunnah, dan ijma’ Ulama. Itulah yang menyebabkan nya berada dijurang kekufuran.



---ooo---



2. Bertanyan Bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam adalah HARAM dan MUNGKAR, LAGI SESAT.



Ja’far bin Abdillah (Murid Imam Malik) rahimahullah berkata : “Kami berada dirumah Malik bin Anas. Kemudian ada orang yang datang dan bertanya : “Wahai Abu Abdillah (gelar Imam Malik) Allah ar-Rahman bersemayam (istiwa) diatas Arsy. Bagaimana Allah bersemayam?”



Mendengar pertanyaan itu, Imam Malik bin Anas rahimahullah marah. Beliau tidak pernah marah seperti itu. Kemudian beliau melihat ke tanah sambil memegang – megang kayu ditangan nya. Lalu beliau mengangkat kepada beliau dan melempar kayu tersebut, lalu berkata : “Cara Allah bersemayam (istiwa) tidaklah dapat dicerna dengan akal, sedangkan bersemayam (istiwa’) itu sendiri sudah dimaklumi makna nya (artinya sebagaimana adanya-pnls). Sedangkan kita wajib mengimaninya (yakni Allah bersemayam-pnls). Dan bertanya (bagaimana) adalah Bid’ah (perkara yang baru didalam agama). Dan saya kita kamulah PELAKU BID’AH itu.” Kemudian Imam Malik menyuruh orang itu agar dikeluarkan dari rumah beliau.” [Lihat, al-Hilyah, VI/325 – 326 dan kitab ulama lain nya]



---ooo----



3. Hukuman Bagi Orang yang Tidak Mengetahui Keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala :



Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata :

“Siapa yang berkata : “Saya tidak tahu Tuhan ku itu dimana, di langit atau di bumi” maka orang tersebut telah menjadi KAFIR. Demikian pula orang yang berkata : “Tuhan ku diatas Arsy. Tetapi saya tidak tahu Arsy itu di langit atau di bumi.” [Lihat, al-Fiqh al-Absath hal 46 dan kitab lain – lain nya]



---ooo---



SOAL : Bagaimana dengan firman Allah : ”Allah bersama kamu dimana saja kamu berada” [Q.S al-Hadid ayat 4]



JAWAB :

Wahai saudara ku, semoga Allah merahmati mu. Ayat ini sangat jelas makna, kenapa engkau potong ayat ini. Kenapa...?



Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

”Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Q.S 57 al-Hadid ayat 4]



Wahai saudara ku, semoga Allah memberi hidayah kepada mu. Allah menetapkan bahwa ”Dia Ar-Rahman bersemayam diatas Arsy-Nya.” Adapun penafsiran ”Dia bersama kamu dimana saja kamu berada” adalah ayat selanjutnya ”Dan Allah Melihat apa yang kamu kerjakan” artinya dimana saja kamu berada, dibarat atau ditimur, diselatan atau diutara. Kamu tidak akan bisa lari dari pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Adapun Dzat Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas Arsy-Nya. Bukankah ini sangat jelas sekali. Jadi maksud ”Dia bersama kamu di mama saja kamu berada” ini adalah penglihatan, pendengaran dan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama kita.



Imam Malik rahimahullah berkata : ”Allah dilangit, dan ilmu (pengetahuan) Allah meliputi setiap tempat.” [Lihat, Masail al-Imam Ahmad, hal 263 dan kitab lain nya]



Kata ”Dia bersama kamu disaja berada” sama seperti seseorang menulis sebuah surat ”Saya selalu bersama mu, padahal dia jauh dari pembaca nya.”



Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah Rahimahullah :

Ada seorang wanita bertanya kepada beliau (Imam Abu Hanifah) rahimahullah : ”Dimana Tuhan Anda, yang Anda sembah itu?” Beliau menjawab : ”Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dilangit, TIDAK DI BUMI” Kemudian ada seseorang bertanya : ”Tahukah Anda, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ”Allah itu bersama kamu” [Q.S al-Hadid ayat 4]



Beliau rahimahullah menjawab : ”Ungkapan itu sama seperti kamu menulis surat kepada seseorang (dengan kata-kata) ”Saya akan selalu berada bersama mu” Padahal kaum jauh darinya. (Tidak disamping atau bersama nya)” [Lihat, al-Aswa wa ash-Shifat, hal 429]



Imam Abu Hanifah rahimahullah juga berkata : ”Allah Subhanahu wa Ta’ala ada DI LANGIT, TIDAK DIBUMI” Kemudian ada orang yang bertanya : ”Tahukah Anda bawah Allah berfirman : ”Allah itu bersama mu.” [Q.S Al-Hadid ayat 4]



Beliau menjawab : ”Ungkapan itu seperti kamu menulis surat kepada seseorang ”Saya akan selalu bersama mu” padahal kamu jauh dari nya.” [Lihat, al-Asma’ ash-Shifat, (II/170)]



---ooo---



SOAL : Bagaimana dengan firman Allah : ”....dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” [Q.S Qaaf ayat 16]



JAWAB :

Wahai saudara ku, semoga Allah merahmati mu. Ayat ini sangat jelas makna, kenapa engkau potong ayat ini. Kenapa...? Lanjutkan ayat ini jika engkau benar-benar beriman kepada al-Quran.



Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” [Q.S Qaaf ayat 16-17]



Wahai saudara ku, semoga Allah memberi hidayah kepada mu. Bukankah sudah kami katakan ”Jangan dipotong ayat ini, sehingga makna nya rusak”



Maksud firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

”Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Maksud ayat ini dijelaskan oleh ayat selanjutnya. ”(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.”



Kesimpulan :

1. Allah Subhanahu wa Ta’ala berada diatas langit, bersemayam diatas Arsy-Nya.

2. Ilmu, Penglihatan, Pendengaran Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu dan selalu mengawasi kita.

3. Mengingkari sifat istiwa’ (bersemayam) adalah kekufuran dan pelakunya terancam kafir.

4. Bertanya bagaimana bersemayam Allah adalah perbuatan yang Haram, dan Bid’ah. Karena bersemayam sudah diketahui dan dimaklumi.

5. Adapun turun nya Allah Subhanahu wa ta'ala kelangit dunia adalah benar, itu semua sesuai dengan kebesaran-Nya. Dalilnya lihat didalam al-Quran ttg perkataan musa yang ingin melihat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hadits ttg keutamaan shalat tahajjud.

6. Adapun Arsy-Allah adalah Singgasana Allah, jika kursi Allah meliputi langit dan bumi, maka Arsy lebih besar dari itu. Jika tidak terlalu panjang, pasti sudah saya bahas didalam artikel ini



semoga ini cukup dan bisa melepaskan dahaga bagi orang yg haus akan aqidah yg benar.



semoga Allah mengampuni kami, kedua orangtua kami dan kaum muslimin.



Penulis :



Prima Ibnu Firdaus Ar-Arani



Sumber :

a. I’tiqad al-A’immah al-Arba’ah, Syaikh DR.Muhammad Abdurrahman al-Khumais.

b. Aqidah Salaf Ashhabul Hadits, Syaikhul Islam Abu Ismail Ash-Shabuni.

c. Ushuulud Diin Indal A’immatil Arba’ah Waahidah, Syaikh DR.Nashir bin Abdullah al-Qafari.

d. Ahlus Sunnah wa I’tiqaduddien, Imam Ibnu Abu Hatim ar-Razi.

e. Ushuulus Sunnah, Imam al-Hafizh Abu Bakar al-Humaidi.

f. I’tiqad Ahlissunnah Ashhab al-Hadits, Syaikh DR.Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais.

g. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah, al-Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas.

h. Al-Masa’il, al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat.

i. Tafsir Al-Quran Al-Azhim, al-Hafizh Ibnu Katsir.

Rabu, 22 September 2010

Takhrij Hadits No 1 - Shahih Bukhari


TAKHRIJ HADITS SHAHIH BUKHARI :
Imam Bukhari rahimahullah berkata :
Kitab 1 : Permulaan Wahyu
Bab 1 : Permulaan Wahyu
Hadits no 1

Telah menceritakan kepada kami [Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair] dia berkata, Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id Al Anshari] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ibrahim At Taimi], bahwa dia pernah mendengar [Alqamah bin Waqash Al Laitsi] berkata; saya pernah mendengar [Umar bin Al Khaththab] diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"

Perawi Hadits Ini Sebagai Berikut :
Imam Bukhari (sebagai Pencatat Hadits)
1.       Imam Al-Humaidi
2.       Sufyan
3.       Yahya bin Sa’id al-Ansari
4.       Muhammad bin Ibrahim at-Taimi
5.       Alqamah bin Waqash Al-Laitsi
6.       Umar bin Khathathab Radhiyallahu’anhu...

Keterangan Sanad (rawi hadits) :
1.       Imam Al-Humaidi rahimahullah (guru Imam Bukhari).
Beliau adalah Abdullah bin Az-Zubair bin ‘Isa bin ‘Ubaidillah. Kunyah beliau adalah “ Abu Bakar “
Beliau masuk kelompok Tabi’ul Atba’ kalangan senior (tua).
Beliau hidup di negara Marur Rawdz. Wafat tahun 219 H.

Komentar Ulama tentang Beliau :
Imam Abu Hatim rahimahullah berkata : (Dia) Imam yang Tsiqah
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata : (Dia) Seorang tokoh
Imam Ahmad rahimahullah berkata : (Dia) Imam
Imam Ibnu Hibban rahimahullah menyebutnya didalam ‘ats-Tsiqaah
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah Hafidz

---ooo---

2.       Sufyan
Beliau adalah Imam Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran Maimun. Kunyah beliau “Abu Muhammad”
Beliau dari kalangan Tabi’ Tabi’in kalangan pertengahan. Hidup dinegeri Kufah. Wafat pada tahun 198 H.

Komentar Ulama tentang Beliau :
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata : (Dia) Hafidz, Imam
Imam Al-‘Ajli rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah Tsabat dalam hadits
Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata : (Dia) Hafidz mutqin

---ooo---

3.       Yahya bin Sa’id al-Ansari
Beliau adalah Yahya bin Sa’id bin Qais al-Ansari. Kunyah beliau adalah Abu Sa’id.
Beliau dari kalangan Tabi’in kalangan biasa. Hidup dinegeri Madinah. Wafat pada tahun 144 H.

Komentar Ulama tentang Beliau :
Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah
Imam Abu Hatim rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata : (Dia) Imam
Imam Ahmad rahimahullah berkata : (Dia) Paling Tsabat
Imam Al-‘Ajli rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah
Imam An-Nasa’i rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah Ma’mun
Imam Ibnu Sa’d rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah tsabat
Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah

---ooo---

4.       Muhammad bin Ibrahim at-Taimi
Beliau adalah Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits bin Khalid at-Taimi. Kunyah beliau “Abu Abdullah”.
Beliau dari kalangan Tabi’in kalangan Biasa. Hidup dinegeri Madinah. Wafat pada tahun 120 H

Komentar Ulama tentang Beliau :
Imam Ya’qub bin Syaibah rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan “Mereka mentsiqahkan”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah Lahu Afrod

---ooo---

5.       Alqamah bin Waqash Al-Laitsi
Beliau adalah Alqamah bin Waqash Al-Laitsi. Beliau dari kalangan Tabi’in Senior (Tua). Hidup dinegeri Madinah.

Komentar Ulama tentang Beliau :
Imam An-Nasa’i rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : (Dia) Tsiqah tsabat
Imam Ibnu Hibban menyebutnya didalam “Ats-Tsiqaat”

---ooo---


6.       Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu...
Beliau adalah Umar bin Khaththab bin Nufail Radhiyallahu’anhu. Kunyah beliau “Abu Hafsh”
Beliau salah Sahabat yang mulia, yang memiliki banyak keutamaan. Termasuk Khulafa ar-Rasyidin. Dan termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga. Orang terutama setelah para Nabi dan Rasul, setelah Abu Bakar as-Shidiq radhiyallahu’anhu. Hidup di negeri madinah. Wafat pada tahun 23 H.

Kesimpulan :
Dengan demikian, derajat hadits ini SHAHIH. Dan para ulama telah menerima hadits ini sebagai hadits yang Shahih dan mereka telah sepakat tentang hal itu.

Ditulis : Alhadulillah, selesai pada tengah malam.

Pada tanggal : 22 September 2010 M / 13 Syawal 1431 H

Prima Saputra Ibnu Firdaus Ar-Arani

(Semoga Allah mengampuni kami, kedua orangtua kami dan kaum muslimin umumnya)


Selasa, 31 Agustus 2010

Mutiara Hikmah Dari Para Salaf (pertama)

Dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu'anhu:

"Sifatkan dunia kepada kami".

Beliau berkata:

"Apa yang akan aku sifatkan dari negeri yang awalnya kelelahan dan

akhirnya fana (kehancuran),

halalnya adalah hisab dan

haramnya adalah adzab,

orang yang merasa cukup dengannya akan terfitnah, dan

orang yang mengejarnya akan sedih".

(Jami' bayanil 'Ilmi wa Fadllihi 1/176).



Sabtu, 28 Agustus 2010

Wahai Ibu ku.....!



Kepada yg tercinta, bundaku yg kusayang
Segala puji bagi Allah… yg telah memuliakan kedudukan kedua orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga.
Shalawat serta salam hamba -yg lemah ini- panjatkan keharibaan Nabi yg mulia, keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…

Ibu…
Aku terima suratmu yg engkau tulis dg tetesan air mata dan duka… aku telah membaca semuanya… tidak ada satu huruf pun yg aku sisakan.
Tapi tahukah engkau, wahai Ibu… bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya’… Semenjak sholat isya’… aku duduk di pintu kamar, aku buka surat yg engkau tuliskan untukku… dan aku baru selesaikan membacanya setelah ayam berkokok… setelah fajar terbit dan adzan pertama telah dikumandangkan…
Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut, jika ditaruhkan di atas batu, tentu ia akan pecah… Jika engkau letakkan di atas daun yg hijau, tentu dia akan kering…
Sebenarnya, surat yg engkau tulis tersebut tidak akan tertelan oleh ayam… Sebenarnya, wahai ibu, suratmu itu bagiku bagaikan petir kemurkaan, yg jika dipecutkan ke pohon yg besar, dia akan rebah dan terbakar…
Suratmu wahai ibu, bagaikan awan Kaum Tsamud, yg datang berarak dan telah siap dimuntahkan kepadaku…

Ibu…
Aku telah baca suratmu, sedangkan air mataku tidak pernah berhenti!! Bagaimana tidak… Jika surat itu ditulis oleh seorang yg bukan ibu dan bukan ditujukan pula kepadaku, layaklah orang yg paling bebal, untuk menangis sejadi-jadinya… Bagaimana kiranya, jika yg menulis itu adalah ibuku sendiri… dan surat itu ditujukan untukku sendiri…
Sungguh aku sering membaca kisah sedih, tidak terasa bantal yg dijadikan tempat bersandar telah basah karena air mata… Bagaimana pula dg surat yg ibu tulis itu!? bukan cerita yg ibu karang, atau sebuah drama yg ibu perankan, akan tetapi dia adalah kenyataan hidup yg ibu rasakan.

Ibuku yg kusayangi…
Sungguh berat cobaanmu… sungguh malang penderitaanmu… semua yg engkau telah sebutkan benar adanya…
Aku masih ingat ketika engkau ditinggalkan ayah pada masa engkau hamil tua mengandung adikku. Ayah pergi entah kemana tanpa meninggalkan uang belanja, jadilah engkau mencari apa yg dapat dimasak di sekitar rumah dari dedaunan dan tumbuhan.
Dg jalan berat engkau melangkah ke kedai untuk membeli ala kadarnya, sambil engkau membisikkan kepada penjual bahwa apa yg engkau ambil tersebut adalah hutang… hutang… yg engkau sendiri tidak tahu, kapan engkau akan dapat melunasinya…

Ibu…
Aku masih ingat ketika kami anak-anakmu menangis untuk dibuatkan makanan, engkau tiba-tiba menggapai atap dapur untuk mengambil kerak nasi yg telah lama engkau jemur dan keringkan…
Tidak jarang pula engkau simpan untukku sepulang sekolah tumbung kelapa, hanya untuk melihat aku mengambilnya dg segera.
Aku masih ingat… engkau sengaja ambilkan air didih dari nasi yg sedang dimasak, ketika engkau temukan aku dalam keadaan sakit demam.

Ibu…
maafkanlah anakmu ini… aku tahu bahwa semenjak engkau gadis, sebagaimana yg diceritakan oleh nenek sampai engkau telah tua seperti sekarang ini, engkau belum pernah mengecap kebahagiaan.
Duniamu hanya rumah serta halamannya, kehidupanmu hanya dg anak-anakmu… Belum pernah aku melihat engkau tertawa bahagia, kecuali ketika kami anak-anakmu datang ziarah kepadamu. Selain dari itu, tidak ada kebahagiaan… Semua hidupmu adalah perjuangan. Semua hari-harimu adalah pengorbanan

Ibu…
Maafkan anakmu ini! Semenjak engkau pilihkan untukku seorang istri, wanita yg telah engkau puji sifat dan akhlaknya… yg engkau telah sanjung pula suku dan negerinya! Semenjak itu pula aku seakan-akan lupa deganmu…

Wahai ibu…
Keberadaan dia sebagai istriku telah membuatku lupa posisi engkau sebagai ibuku… senyuman dan sapaannya telah melupakanku dg himbauanmu.
Ibu… aku tidak menyalahkan wanita pilihanmu tersebut, karena kewajibannya untuk menunaikan tanggung-jawabnya sebagai istri… Aku berharap pada permasalahan ini, engkau tidak membawa-bawa namanya, dan mengaitkan kedurhakaanku kepadamu karenanya… Karena selama ini, di mataku dia adalah istri yg baik, istri yg telah berupaya berbuat banyak untuk suami dan anak-anaknya… Istri yg selalu menyuruh untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ibu…
Ketika seorang laki-laki menikah dg seorang wanita, maka seolah-olah dia telah mendapatkan permainan baru, seperti anak kecil mendapatkan boneka atau orang-orangan. Maafkan aku ibu…
Aku tidaklah membela diriku, karena dari awal dan akhir pembicaraan ini kesalahan ada padaku, anakmu ini… Akan tetapi aku ingin menerangkan keadaan yg aku alami, perubahan suasana setelah engkau dan aku berpisah, tidak satu atap lagi…

Ibu…
Perkawinanku membuatku masuk ke alam dunia baru… dunia yg selama ini tidak pernah aku kenal… dunia yg hanya ada aku, istri dan anak-anakku… Bagaimana tidak, istri yg baik, anak-anak yg lucu-lucu! Maafkan aku Ibu… Maafkan aku anakmu… aku merasa dunia hanya milik kami, aku tidak peduli dg keadaan orang yg penting bagiku… yg penting bagiku adalah keadaan mereka: anak-anak dan istriku…

Ibu…
Maafkan aku, anakmu… Ampunkan aku, anakmu… Aku telah lalai… aku telah alpa… aku telah lupa… aku telah menyia-nyiakanmu…
Aku pernah mendengar kajian, bahwa orang tua difitrahkan untuk cinta kepada anaknya, akan tetapi anak difitrahkan untuk menyia-nyiakan orang tuanya… Oleh sebab itu, dilarang mencintai anak secara berlebihan, sebagaimana anak dilarang berbuat durhaka kepada orang tuanya… Itulah yg terjadi pada diriku, wahai Ibu!!
Aku pasti akan gila ketika melihat anakku sakit… Aku seperti orang kebingungan ketika melihat anakku diare… Tapi itu sulit, aku rasakan jika hal itu terjadi padamu wahai ibu… Itu sulit aku rasakan, jika seandainya hal itu terjadi pada ibu, dan pada ayah…

Ibu…
Sulit aku merasakan perasaanmu…
Kalaulah bukan karena bimbingan agama yg telah engkau talqinkan kepadaku, tentu aku telah seperti kebanyakan anak-anak yg durhaka kepada orang tuanya!!
Kalaulah bukan karena baktimu pula kepada orang tuamu dan orang tua ayahmu, niscaya aku tidak akan pernah mengenal arti bakti kepada orang tua.
Setelah suratmu datang, baru aku mengerti… Karena selama ini hal itu tidak pernah engkau ungkapkan, semuanya engkau simpan dalam-dalam seperti semua permasalahan berat, yg engkau hadapi selama ini.
Sekarang baru aku mengerti, wahai ibu… bahwa hari yg sulit bagi seorang ibu, adalah hari di mana anak laki-lakinya telah menikah dg seorang wanita… wanita yg telah mendapat keberuntungan…
Bagaimana tidak… Dia dapatkan seorang laki-laki yg telah matang pribadinya dan matang ekonominya, dari seorang ibu yg telah letih membesarkannya… Dari hidup ibu itulah ia dapatkan kematangan jiwa, dan dari uang ibu itu pulalah ia dapatkan kematangan ekonomi… Sekarang, -dg ikhlas- ia berikan kepada seorang wanita yg tidak ada hubungan denganya, kecuali hubungan dua wanita yg saling berebut perhatian seorang laik-laki… Dia sebagai anak dari ibunya dan dia sebagai suami dari istrinya.

Ibuku sayang…
Maafkan aku… Ampunkan diriku… Satu tetesan air matamu adalah lautan api neraka bagiku… Janganlah engkau menangis lagi, janganlah engkau berduka lagi!… Karena duka dan tangismu menambah dalam jatuhku ke dalam api neraka!! Aku takut Ibu…
Kalau itu pula yg akan kuperoleh… kalau neraka pula yg akan aku dapatkan… ijinkan aku membuang semua kebahagiaanku selama ini, hanya demi untuk dapat menyeka air matamu…
Kalau engkau masih akan murka kepadaku, izinkan aku datang kepadamu membawa segala yg aku miliki lalu menyerahkannya kepadamu, lalu terserah engkau… terserah engkau, mau engkau buat apa…
Sungguh ibu, dari hati aku katakan, aku tidak mau masuk neraka, sekalipun aku memiliki kekuasaan Firaun… kekayaan Karun… dan keahlian Haman… Niscaya aku tidak akan tukar dg kesengsaraan di akhirat sekalipun sesaat… Siapa pula yg tahan dg azab neraka, wahai Bunda… maafkan aku anakmu, wahai ibu!!
Adapun sebutanmu tentang keluhan dan pengaduan kepada Allah ta’ala, bahwa engkau belum mau mengangkatnya ke langit… bahwa engkau belum mau berdoa kepada Alloh akan kedurhakaanku… Maka, ampun, wahai Ibu!!
Kalaulah itu yg terjadi… dan do’a itu tersampaikan ke langit! Salah pula ucapan lisanmu!! Apalah jadinya nanti diriku… Apalah jadinya nanti diriku… Tentu aku akan menjadi tunggul yg tumbang disambar petir… apalah gunanya kemegahan, sekiranya engkau do’akan atasku kebinasaan, tentu aku akan menjadi pohon yg tidak berakar ke bumi dan dahannya tidak bisa sampai ke langit, di tengahnya dimakan kumbang pula…
Kalaulah do’amu terucap atasku, wahai bunda… maka, tidak ada lagi gunanya hidup… tidak ada lagi gunanya kekayaan, tidak ada lagi gunanya banyak pergaulan…
Ibu dalam sepanjang sejarah anak manusia yg kubaca, tidak ada yg bahagia setelah kena kutuk orang tuanya. Itu di dunia, maka aku tidak dapat bayangkan bagaimana nasibnya di akherat, tentu ia lebih sengsara…

Ibu…
Setelah membaca suratmu, baru aku menyadari kekhilafan, kealfaan dan kelalaianku.
Ibu… Suratmu akan kujadikan “jimat” dalam hidupku… setiap kali aku lalai dalam berkhidmat kepadamu akan aku baca ulang kembali… tiap kali aku lengah darimu akan kutalqinkan diriku dengannya… Akan kusimpan dalam lubuk hatiku, sebelum aku menyimpannya dalam kotak wasiatku… Akan aku sampaikan kepada anak keturunanku, bahwa ayah mereka dahulu pernah lalai di dalam berbakti, lalu ia sadar dan kembali kepada kebenaran… ayah mereka pernah berbuat salah, sehingga ia telah menyakiti hati orang yg seharusnya ia cintai, lalu ia kembali kepada petunjuk.

Bunda…
Tua… engkau berbicara tentang tua, wahai bunda…?! siapa yg tidak mengalami ketuaan, wahai ibu!!
Burung elang yg terbang di angkasa, tidak pernah bermain kecuali di tempat yg tinggi… suatu saat nanti dia akan jatuh jua, dikejar, dan diperebutkan oleh burung-burung kecil.
Singa, si raja hutan yg selalu memangsa, jika telah tiba tua, dia akan dikejar-kejar oleh anjing kecil tanpa ada perlawanan… Tidak ada kekuasaan yg kekal, tidak ada kekayaan yg abadi, yg tersisa hanya amal baik atau amal buruk yg akan dipertanggungjawabkan.

Ibu…
Do’akan anakmu ini, agar menjadi anak yg berbakti kepadamu, di masa banyak anak yg durhaka kepada orang tuanya… Angkatlah ke langit munajatmu untukku, agar aku akan memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akherat.

Ibu…
sesampainya suratku ini, insya Allah tidak akan ada lagi air mata yg jatuh karena ulah anakmu… setelah ini tidak ada lagi kejauhan antaraku denganmu…
bahagiamu adalah bahagiaku… kesedihanmu adalah kesedihanku… senyumanmu adalah senyumanku… tangismu adalah tangisku…
Aku berjanji, untuk selalu berbakti kepadamu buat selamanya, dan aku berharap agar aku dapat membahagiakanmu selagi mataku masih bisa berkedip… maka bahagiakanlah dirimu… buanglah segala kesedihan, cobalah tersenyum… Ini kami… aku, istri, dan anak-anak sedang bersiap-siap untuk bersimpuh di hadapanmu, mencium tanganmu.
Salam hangat dari anakmu yg durhaka…
(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh-)

Download kajian tentang Berbakti Kepada Orangtua disini :
http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Yazid%20Jawas/Birrul%20Walidain

Jumat, 27 Agustus 2010

Wahai Anak ku.....!

Wahai anakku…


5 Februari 2010 pada 23:09 (Adab, Kisah)

Tags: curahan hati ibu, surat ibu kepada anaknya, rintihan ibu, wahai anakku, ibu dan anak


diterjemahkan oleh Al-Ustadz Armen Halim Naro rahimahullah


Untuk anakku yang ku sayangi di bumi Alloh ta’ala

Segala puji ku panjatkan ke hadirat Alloh ta’ala, yang telah memudahkan ibu untuk beribadah kepada-Nya.

Sholawat serta salam, ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, keluarga, dan para sahabatnya.

Wahai anakku…

surat ini datang dari ibumu, yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang, ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri ini.

Setiap kali menulis, setiap itu pula gores tulisan ini terhalangi oleh tangis. Dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula, hati ini terluka.

Wahai anakku…

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau akan remas kertas ini, lalu engkau robek-robek, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati ibu, dan telah engkau robek pula perasaannya.

Wahai anakku…

25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku.

Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku, dan semua ibu sangat mengerti arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini, sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi ibu.

Semenjak kabar gembira tersebut, aku membawamu sembilan bulan. Tidur, berdiri, makan, dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira tatkala merasakan dan melihat terjalan kakimu, atau balikan badanmu di perutku.

Aku merasa puas, setiap aku menimbang diriku, karena bila semakin hari semakin berat perutku, berarti dengan begitu engkau sehat wal afiat di dalam rahimku.

Anakku…

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah tiba pada malam itu, yang aku tidak bisa tidur sekejap pun, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan, dan merasakan takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula, aku melihat kematian di hadapanku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia, dan engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.

Ketika engkau lahir, menetes air mata bahagiaku. Dengan itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah, dengan bertambah kuatnya sakit.

Aku raih dirimu, sebelum ku raih minuman. Aku peluk cium dirimu, sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkongan.

Wahai anakku…

Telah berlalu setahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku, kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur, demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku selalu melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat, adalah setiap permintaanmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku.

Lalu berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, selama itu pula, aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai… menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti… menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah… dan mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.

Aku selau memperhatikan dirimu, hari demi hari, hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu, wahai anakku…

Tatkala itu, aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan, demi mencari pasangan hidupmu, semakin dekat hari perkawinanmu anakku, semakin dekat pula hari kepergianmu.

Tatkala itu, hatiku serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka. Tangis telah bercampur pula dengan tawa.

Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan… karena engkau telah mendapatkan jodoh… karena engkau telah mendapatkan pendamping hidup… Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku, yang akan berpisah sebentar lagi dari diriku.

Waktu pun berlalu, seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu, aku tidak lagi mengenal dirimu.

Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran, aku benar-benar tidak mengenalmu lagi, karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang ku lewati, hanya untuk melihat rupamu. Detik demi detik ku hitung demi mendengar suaramu. Akan tetapi penantianku seakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu, aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan menelponku. Setiap suara kendaraan yang lewat, aku merasa bahwa engkaulah yang datang.

Akan tetapi semua itu tidak ada, penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping. Yang ada hanya keputus-asaan… Yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini ku rasakan, sambil menangisi diri dan nasib yang memang ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku…

Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan.

Yang ibu pinta kepadamu:

Jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu.

Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan ibu memohon kepadamu nak, janganlah engkau pasang jerat permusuhan dengan ibumu.

Jangan engkau buang wajahmu, ketika ibumu hendak memandang wajahmu.

Yang ibu tagih kepadamu:

Jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana, sekalipun hanya sedetik.

Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi. Atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku…

Telah bungkuk pula punggungku… bergemetar tanganku… karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit… Berdirinya seharusnya telah dipapah… duduk pun seharusnya dibopong…

Akan tetapi, yang tidak pernah sirna -wahai anakku- adalah cintaku kepadamu… masih seperti dulu… masih seperti lautan yang tidak pernah kering… masih seperti angin yang tidak pernah berhenti…

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan, sedangkan ibumu, mana balas budimu, mana balasan baikmu?! bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air serupa?! bukan sebaliknya air susu dibalas dengan air tuba?! Dan bukankah Alloh ta’ala, telah berfirman:

هل جزاء الإحسان إلا الإحسان

Bukankah balasan kebaikan, melainkan kebaikan yang serupa?!

Sampai begitukah keras hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.

Wahai anakku…

Setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?! Karena engkau adalah buah dari kedua tanganku… Engkau adalah hasil dari keletihanku… Engkaulah laba dari semua usahaku…

Dosa apakah yang telah ku perbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu?!

Pernahkah suatu hari aku salah dalam bergaul denganmu?!

Atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?!

Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang terhina dari sekian banyak pembantu-pembantumu yang mereka semua telah engkau beri upah?!

Tidak dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu?!

Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang demi mengobati derita orang tua yang malang ini?!

إن الله يحب المحسنين

Sesungguhnya Alloh mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Wahai anakku…

Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain.

Wahai anakku…

Hatiku terasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan, bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.

Wahai anakku…

Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu berselimutkan kesedihan, dan berpakaian kedukaan?!

Mengapa? Tahukah engkau itu?! Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya… Karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya… Karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya… Karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim.

Wahai anakku…

Ibumu inilah sebenarnya pintu surga, maka titilah jembatan itu menujunya… Lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, kemaafan, dan balas budi yang baik… Semoga aku bertemu denganmu di sana, dengan kasih sayang Alloh ta’ala sebagaimana di dalam hadits:

الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه

Orang tua adalah pintu surga yang paling tinggi. Sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu, atau jagalah! (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi, dishohihkan oleh Albani)

Anakku…

Aku mengenalmu sejak dahulu… semenjak engkau telah beranjak dewasa… aku tahu engkau sangat tamak dengan pahala… engkau selalu cerita tentang keuatamaan berjamaah… engkau selalu bercerita terhadapku tentang keutamaan shof pertama dalam sholat berjamaah… engkau selalu mengatakan tentang keutamaan infak, dan bersedekah…

Akan tetapi satu hadits yang telah engkau lupakan… satu keutamaan besar yang telah engkau lalaikan… yaitu bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abdulloh bin Mas’ud, ia mengatakan:

سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم، قلت: يا رسول الله أي العمل أفضل؟ قال: الصلاة على ميقاتها. قلت: ثم أيُّ؟ قال: ثم بر الوالدين. قلت: ثم أيُّ؟ قال: الجهاد في سبيل الله. فسكت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولو استزدته لزادني. (متفق عليه)

Aku bertanya kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-: Wahai Rosululloh, amal apa yang paling mulia? Beliau menjawab: sholat pada waktunya. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi: Kemudian apa wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Kemudian jihad di jalan Alloh. Lalu aku pun diam (tidak bertanya) kepada Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lagi, dan sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.

Itulah hadits Abdulloh bin Mas’ud…

Wahai anakku…

Inilah aku, ibumu… pahalamu… tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak dan bersedekah… aku inilah pahalamu…

Pernahkah engkau mendengar, seorang suami yang meninggalkan keluarga dan anak-anaknya, berangkat jauh ke negeri seberang, ke negeri entah berantah untuk mencari tambang emas, guna menghidupi keluarganya?! Dia salami satu persatu, dia ciumi isterinya, dia sayangi anaknya, dia mengatakan: Ayah kalian, wahai anak-anakku, akan berangkat ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, ayah akan mencari emas… Rumah kita yang reot ini, jagalah… Ibu kalian yang tua renta ini, jagalah…

Berangkatlah suami tersebut, suami yang berharap pergi jauh, untuk mendapatkan emas, guna membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana mengganti rumah reotnya.

Akan tetapi apa yang terjadi, setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia gagal dalam usahanya. Pulanglah ia kembali ke kampungnya. Dan sampailah ia ke tempat dusun yang selama ini ia tinggal.

Apa lagi yang terjadi di tempat itu, setibanya di lokasi rumahnya, matanya terbelalak. Ia melihat, tidak lagi gubuk reot yang ditempati oleh anak-anak dan keluarganya. Akan tetapi dia melihat, sebuah perusahaan besar, tambang emas yang besar. Jadi ia mencari emas jauh di negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat di tempat ia tinggal.

Itulah perumpaanmu dengan kebaikan, wahai anakku…

Engkau berletih mencari pahala… engkau telah beramal banyak… tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar… di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu masuk surga…

Ibumu adalah orang yang dapat menghalangimu untuk masuk surga, atau mempercepat amalmu masuk surga… Bukankah ridloku adalah keridloan Alloh?! Dan bukankan murkaku adalah kemurkaan Alloh?!

Anakku…

Aku takut, engkaulah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- di dalam haditsnya:

رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه قيل من يا رسول الله قال من أدرك والديه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة (رواه مسلم)

Celakalah seseorang, celakalah seseorang, dan celakalah seseorang! Ada yang bertanya: Siapakah dia wahai Rosululloh? Beliau menjawab: Dialah orang yang mendapati orang tuanya saat tua, salah satu darinya atau keduanya, akan tetapi tidak membuat dia masuk surga. (HR. Muslim 2551)

Celakalah seorang anak, jika ia mendapatkan kedua orang tuanya, hidup bersamanya, berteman dengannya, melihat wajahnya, akan tetapi tidak memasukkan dia ke surga.

Anakku…

Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena jika seandainya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan, yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya…

Aku tidak akan melakukannya wahai anakku… tidak… bagaimana aku akan melakukannya, sedangkan engkau adalah jantung hatiku… bagaimana ibu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit, sedangkan engkau adalah pelipur lara hatiku… bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku…

Bangunlah nak… bangunlah… bangkitlah nak… bangkitlah… uban-uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa, sehingga engkau akan menjadi tua pula.

الجزاء من جنس العمل

Sebagaimana engkau akan berbuat, seperti itu pula orang akan berbuat kepadamu.

الجزاء من جنس العمل

Ganjaran itu sesuai dengan amal yang engkau telah tanamkan. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.

Aku tidak ingin engkau menulis surat ini… aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama, dengan air matamu kepada anak-anakmu, sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu.

Wahai anakmu…

bertakwalah kepada Alloh… takutlah engkau kepada Alloh… berbaktilah kepada ibumu… peganglah kakinya, sesungguhnya surga berada di kakinya… basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya… kencangkan tulang ringkihnya… dan kokohkan badannya yang telah lapuk…

Anakku…

setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu. Apakah engkau sadar dan engkau akan kembali, atau engkau akan merobeknya.

Wa shollallohu ala nabiyyina muhammadin wa ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Dari Ibumu yang merana.

(Disadur dari kajian Ustadz Armen -rohimahulloh- dan akan disambung dengan jawaban si anak kepada sang ibu)

sumber :
http://addariny.wordpress.com/2010/02/05/wahai-anakku/


sumber download kajian

http://kaeshafiz.wordpress.com/unduh/audio/